Puisi Memadatkan Luasnya Imajinasi

Selasa, 1 Agustus 2023 - 14:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Isbedy Stiawan Z S Foto: Instgaram @isbedystiawan

Isbedy Stiawan Z S Foto: Instgaram @isbedystiawan

Puisi merupakan salah satu genre dari Sastra (kesusastraan). Adapun karya sastra itu meliputi puisi, prosa dan esai.

Apa itu sastra? Karya sastra adalah karangan yang menitiberatkan pada bahasa. Berbeda dengan opini, berita, maupun karya ilmiah, maka sastra—terutama puisi—adalah seni berbahasa. Di dalam puisi, ada simbol, imajinasi, puitik, serta estetika.

Karena puisi adalah karangan yang (amat) pendek (padat), maka seorang penulis puisi (penyair) akan berupaya memadatkan apa yang hendak dikatakannya, dengan cara pemilihan kata (diksi) untuk mewakili perasaan dan pernyataannya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai contoh, betapa padatnya puisi “Nisan” yang ditulis Chairil Anwar. Sekiranya bukan seorang penyair, mempermasalahkan nisan atau kematian akan berpanjang-panjang.

Baca Juga :  Proses Kreatif Berpuisi

Nisan

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan sbertahta. .

Berbeda dalam menulis prosa (cerpen, novel, skenario film/teater) yang membutuhkan banyak kata (kalimat), maka puisi adalah memadatkannya. Puisi cenderung menangkap citraan-citraan dari suatu tema yang besar. Sedangkan prosa meluaskan dan melebarkan tema menjadi persoalan yang berlarat-larat.

Karena itu, dalam menulis puisi pertama kali yang perlu diperhatikan bagaimana mendapatkan atau menemukan kata dan kalimat pertama yang padat namun bisa mewakili apa yang ingin kita nyatakan (katakan).

Meminjam pendapat penyair (alm) Kriapur (Kristanto Agus Purnomo), saat penyair mendapatkan imajinasi maka imajinasi tersebut dihancurkan terlebih dulu dalam benaknya, untuk mendapatkan imajinasi baru yang akan dituangkan ke dalam puisi.

Baca Juga :  Apakah Puisi Itu?

Sementara itu, pemenang Nobel Sastra Octavio Pazz mengatakan, puisi adalah sejarah lain. Artinya, biarpun puisi lahir dari sejarah namun dia menjadi suara yang lain. Dan, penyairlah yang sebagai “koki” dari segalanya.

Perkembangan puisi kemudian, memang ada genre yang diberi nama puisi esai. Meski genre baru ini masih diperdebatkan. Di Indonesia yang memopulerkannya adalah Denny JA. Puisi esai, hampir sama dengan esai, bisa 15 sampai 20 halaman lebih. Di dalam puisi esai, disertakan catatan kaki—selayaknya karangan ilmiah, hanya tetap pada pakem puisi; seperti tipografi, rima atau irama, dan seterusnya. (*)

Isbedy Stiawan ZS

Penulis : Isbedy Stiawan ZS

Editor : Lingkar Aksara

Berita Terkait

Proses Kreatif Berpuisi
Apakah Puisi Itu?

Berita Terkait

Selasa, 15 Agustus 2023 - 14:51 WIB

Mingrum Gumay: Kepedulian Literasi di Sekolah Harus Konkrit

Rabu, 2 Agustus 2023 - 01:00 WIB

Enam Jenis Literasi Dasar

Rabu, 2 Agustus 2023 - 00:52 WIB

Arti Literasi dan Manfaatnya

Berita Terbaru

SL EDISI 26 OKTOBER 2023

E-Magazine

SL EDISI 26 OKTOBER 2023

Kamis, 2 Nov 2023 - 12:30 WIB

Cerpen

Perpusda Lampung Gelar Lomba Menulis Cerpen Tingkat SLTA

Kamis, 31 Agu 2023 - 19:09 WIB

Edukasi

Mingrum Gumay: Kepedulian Literasi di Sekolah Harus Konkrit

Selasa, 15 Agu 2023 - 14:51 WIB

Peserta ajang O2SN dari semua kotingen Kabupaten/Kota saat mengabadikan momen dengan panitia pertandingan cabor Karate, Rabu (9 Agustus 2023). Foto: Luki

Sport

Balam dan Lamtim Juarai Ajang O2SN Cabor Karate

Rabu, 9 Agu 2023 - 20:07 WIB

E-Magazine Lingkar Aksara Edisi Agustus 2023

E-Magazine

E-Magazine Budaya Literasi dan Lampung Mengaji

Rabu, 2 Agu 2023 - 06:46 WIB