Menyusuri Jejak Sapardi Djoko Damono

Selasa, 1 Agustus 2023 - 14:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sapardi Djoko Damono. Foto: Istimewa

Sapardi Djoko Damono. Foto: Istimewa

Lingkaraksara.com – Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono seorang pujangga terkemuka. Kendati menyandang predikat mentereng karya-karya puisinya kerap kedapatan menggunakan kata-kata sederhana.

Biarpun memakai kata-kata ‘bersahaja’ justru di situ letak kekhasan penyair yang akrab disapa SDD -sebagai singkatan namanya- itu. Tengok saja salah satu karya fenomenalnya bertajuk “Aku Ingin” berikut:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Baca Juga :  Maman Suherman dan Petuah Iqra

Kepiawaian SDD sudah mulai tampak sejak dini. Semenjak masih di bangku sekolah ia sudah rajin menulis. Sejumlah karyanya dikirimkan dan dimuat oleh beberapa majalah.

Kesukaannya menulis semakin berkembang ketika lelaki kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940, ini mengenyam perkuliahan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM.

Ketekunan dan konsistensi mengantarkannya menjadi direktur pelaksanaan Yayasan Indonesia yang menerbitkan majalah sastra Horison. Sejak 1974, ia juga mengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. SDD pun tercatat sebagai salah seorang pendiri Yayasan Lontar.

SDD tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi. Tidak sedikit karya cerita pendek yang ditulisnya. Dia juga dikenal sebagai penerjemah berbagai karya penulis asing. Bahkan SDD terbilang rajin menulis esai, dan sejumlah artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.

Baca Juga :  Maman Suherman dan Petuah Iqra

Tak aneh bila kemudian dirinya diganjar seabrek penghargaan. Di antaranya anugerah SEA Write Award pada tahun 1986. Lalu penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003.

19 Juli 2020, Sapardi Djoko Damono tutup usia. Beliau pergi genap diusia 80 tahun. Sebuah perjalanan panjang anak manusia yang meninggalkan banyak jejak dalam bentuk karya yang indah buat dikenang dan dinikmati. (*)
(dari berbagai sumber)

Penulis : Lingkar Aksara

Editor : Lingkar Aksara

Berita Terkait

Maman Suherman dan Petuah Iqra

Berita Terkait

Selasa, 15 Agustus 2023 - 14:51 WIB

Mingrum Gumay: Kepedulian Literasi di Sekolah Harus Konkrit

Rabu, 2 Agustus 2023 - 01:00 WIB

Enam Jenis Literasi Dasar

Rabu, 2 Agustus 2023 - 00:52 WIB

Arti Literasi dan Manfaatnya

Berita Terbaru

SL EDISI 26 OKTOBER 2023

E-Magazine

SL EDISI 26 OKTOBER 2023

Kamis, 2 Nov 2023 - 12:30 WIB

Cerpen

Perpusda Lampung Gelar Lomba Menulis Cerpen Tingkat SLTA

Kamis, 31 Agu 2023 - 19:09 WIB

Edukasi

Mingrum Gumay: Kepedulian Literasi di Sekolah Harus Konkrit

Selasa, 15 Agu 2023 - 14:51 WIB

Peserta ajang O2SN dari semua kotingen Kabupaten/Kota saat mengabadikan momen dengan panitia pertandingan cabor Karate, Rabu (9 Agustus 2023). Foto: Luki

Sport

Balam dan Lamtim Juarai Ajang O2SN Cabor Karate

Rabu, 9 Agu 2023 - 20:07 WIB

E-Magazine Lingkar Aksara Edisi Agustus 2023

E-Magazine

E-Magazine Budaya Literasi dan Lampung Mengaji

Rabu, 2 Agu 2023 - 06:46 WIB